Alur pikir bagaimana yang digunakan untuk memformat pendidikan kita? Pertanyaan yang tampaknya sederhana dan tampak klasik –di tengah praktik pendidikan yang telah berjalan lama – ini, sebenarnya berkonsekuensi radikal, ketika kita menengok hasil pendidikan kita: telah tampak atau belum. Pernyataan di atas menurunkan beberapa pertanyaan pragmatis yang harus dijawab. Pertama, sejauh mana kontribusi pendidikan kita pada pembangunan daerah. Dalam pengertian, bagaimana wujud konkret layanan pendidikan kita dalam konteks lokalitas daerah dalam habitat global; dan dukungan “mesin pendidikan” untuk supporting arah pembangunan daerah secara riil. Kedua, sejauh mana piranti teknis pendidikan kita semisal sekolah-sekolah menata dirinya sebagaimana harapan point pertama.
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab secara operasional dan riil, sebab bila tak jelas, hanya akan membuat “kabur air” pada praktik pendidikan kita. Mungkin akan muncul pernyataan semacam “pendidikan kan sudah berjalan lama, dan ndak masalah tuh...”. Selama ini telah banyak alur pikir, aneka ragam model dan paradigma pembangunan pendidikan yang dipakai, tepatnya diujicobakan. Namun yang perlu disadari adalah, formula pendidikan ala pemerintah pusat tidak sepenuhnya compatible dan supported tatkala diterjemahkan secara lugas di daerah. Hal ini menyangkut lokalitas, budaya lokal, karakter, dan lebih practical, tujuan dan manfaat bagi masyarakat lokal. Karenanya, daerah harus berani mengambil langkah terobosan yang inovatif, untuk menghindari penyelenggaraan pendidikan yang “asal jalan” dan kebijakan yang salah kaprah. Maka perlu untuk menakar praktik penyelenggaraan dan kebijakan pendidikan selama ini, juga link-match pendidikan kita dengan arah pembangunan kota. Strateginya adalah, dengan mensinergikan seluruh potensi, mengoptimalkan sumberdaya lokal yang ada, mengakselerasikan prioritas pembangunan daerah sekaligus “memasarkan” daerah agar tempil beda di era global. Sinergitas, optimalisasi dan akselerasi potensi serta “pemasaran” kota ini dilakukan agar semua kegiatan terfokus untuk mendorong inovasi seluruh kegiatan pemerintah kota. Kristalisasi upaya tersebut melahirkan suatu statement rujukan utama bagi pengelolaan kota, yang disebut city branding. Selanjutnya city branding ini merupakan icon yang menyemangati seluruh stakeholders kota sekaligus trade-mark bagi kota. Semangat inovatif progresif, efektif efisien serta tampil beda di era global yang kompetitif dipadu berbagai langkah terobosan harusnya digunakan sebagai paradigma baru pengelolaan kota agar tampil atraktif dan feasible (memungkinkan untuk dilaksanakan, bukan program ambisius yang tanpa dasar).
Daya dukung paling utama untuk tujuan dan pendekatan ini adalah SDM yang handal, yang hanya diperoleh melalui penyelenggaraan pendidikan yang strategik dan bermisi. Strategi penyelenggaraan pendidikan yang diturunkan dari konsepsi city branding ini telah dimulai oleh beberapa kota/ kabupaten seperti Kota Tarakan, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dsb. Tarakan misalnya, melalui city branding statement-nya, “The New Singapore”, ia men-set up pendidikannya agar mendukung core dan goal pembangunannya. Mulai dari menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional yang dipersiapkan sejak SD (persiapan), SMP dan SMA, membudayakan berbahasa Inggris dan menciptakan budaya bersih di tiap-tiap sekolah hingga berbagai konsekuensi kebijakan pemkot untuk mendukung program besar ini, antara lain kebijakan anggaran dan penguatan sinergitas kawasan. Kota Tarakan merupakan daerah transit yang menghubungkannya dengan Malaysia, Singapura dan Filipina, sehingga Tarakan (selain Batam) juga merupakan daerah tujuan dan “tujuan antara” bagi orang-orang dari daerah Jawa. Semua potensi ini termanfaatkan secara cerdas oleh pemkot Tarakan. Upaya-upaya strategik tersebut menjiwai penyelenggaraan pendidikan di Kota Tarakan. Jadi, ada semacam skenario besar yang membingkai sebagai misi pendidikan, untuk mengarah pada suatu tujuan, yakni men-support “The New Singapore” tadi. “The New Singapore” sebagai icon semangat lokal dan trade mark kota dalam city branding-nya dan dibuktikan dengan dukungan praktik penyelenggaraan pendidikan yang supported dan compatible, diharapkan pembangunan daerah bukan merupakan beban daerah, namun peluang energi baru melalui instrumen pendidikan. Sekaligus membuktikan bahwa sistem pendidikan mampu berbuat banyak secara konkret.***
Oleh: Wawan E. Kuswandoro, S.Sos., M.Si
Ketua Forum Dewan Pendidikan se-Wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur
Sumber: www.wawankuswandoro.blogspot.com
Senin, 19 Januari 2009
Langganan:
Komentar (Atom)



